Strategi Adaptif Jejaring Sosial Ciptakan Nilai Baru

Kelangsungan hidup perusahaan merupakan hal paling penting dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan usaha.

Ketidakmampuan memanfaatkan sumber daya internal dan eksternal membuat perusahaan lebih rentan terhadap ketidakpastian, sehingga harus menerapkan strategi adaptif guna menemukan kapabilitas (capability) dan kompetensi inti (core competency. Perusahaan dapat mengimplementasikan stategi adaptif dengan cara memperhatikan interaksi sosial dengan lingkungan bisnis masing-masing dalam suatu keterikatan jejaring sosial.

Dalam lingkungan bisnis yang tidak pasti, strategi adaptif akan membantu perusahaan mempertahankan dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan keunggulan bersaing untuk tetap bertahan (Chakravarthy, 1982, Adaptation A Promosing Methaphor for Strategic Management, Academy of Management Review).

Strategi adaptif dapat dikembangkan melalui interaksi sosial antarperusahaan (Carter, 1990, Small Firm Adaptation Responses ol Physicians Organization and Competitive Uncertainty, Academy of Management Review). Perusahaan dapat saling bekerja sama sekaligus bersaing, yang akhirnya memengaruhi strategi adaptif yang diterapkan.

Dimensi persaingan menuntut upaya penciptaan nilai baru (new creation) dan pengambilan risiko merupakan ciri khas perilaku wira usaha. Schumpeter (1934), menyatakan, secara umum wira usaha terkait dengan sumber daya untuk menentukan aktivitas bisnis baru guna menghadapi perubahan lingkungan, khususnya perilaku konsumen.

Perilaku wira usaha dalam kenyataannya tidak lepas dari proses wira usaha sosial (Aldrich Zimmer, 1986, Entrepreneur-ship Through Soda! Networks. The Art and Science of Entrepreneurship, New York; BaHinger). Hubungan antarperusahaan dalam konteks sosial dapat membentuk jejaring sosial (social network) yang kuat dan memberikan manfaat sebagai modal sosial (Burt, 1992, Structural Holes The Sodal Structure of Competition, University Press Massachusetts).

Modal sosial yang terbentuk dapat dilihat dari tiga dimensi, yakni struktural, relasional, dan kognitif, yang saling terikat di antara perusahaan dalam suatu jejaring (NahapietGhoshal, 1998, Soda] Capital. Intellectual Capital The Organizational Advantage, Academy of Management Review).

Dalam jejaring sosial dapat terjadi pertukaran sumber daya dan mendorong kegiatan pembelajaran organisasi perusahaan (organizational learning), yang sangat penting dalam pengembangan dan implementasi strategi adaptif. Kegiatan pembelajaran organisasi terjadi karena adanya interaksi dalam jejaring sosial untukmemperluas akses terhadap pengetahuan, sumber daya, pasar dan teknologi.

Pengembangan perilaku strategi adaptif tidak hanya fokus pada kinerja internal perusahaan, tetapi juga harus memperhatikan kemampuan interaksi antarperusahaan yang berada dalam jejaring sosial. Proses kegiatan wirausaha juga memengaruhi perilaku wira usaha yang dibutuhkan untuk menciptakan nilai-nilai baru (new creation) sebagai hasil penerapan strategi adaptif yang proaktif dan agresif.

Terciptanya pertukaran sosial pengetahuan antarperusahaan juga perlu memperhatikan jejaring sosial, kepercayaan (trust), dan pembelajaran organisasi yang saling berkaitan (Levin Cross, 2004, The Mediating Role of Trust in Effective Knowledge Transfer, Management Sdence).

Wira usaha perlu memperhatikan wilayah industrial masing-masing sebagai jejaring sosial yang dapat dijadikan sarana pertukaran pengetahuan.

Bahkan, harus memperhatikan masukan pengetahuan dari eksternal, sehingga terhindar dari risiko kerabunan (risk of myopia) (Nooteboom. 1992, Problems And Solutions In The Transfer of Knowledge to Smalls Firms).

Terjadinya ikatan antarperusahaan dalam hal pengembangan perilaku wirausaha akan menumbuhkan kemampuan sikap strategi adaptabilitas. Kebijakan perusahaan perlu memperhatikan pengembangan kapabilitas keunggulan bersaing dalam jejaring sosial tidak hanya mengacu pada dimensi kerja sama, tetapi juga fiarus memperhatikan dimensi persaingan yang diakibatkan oleh perubahan lingkungan bisnis.

Keterikatan struktural memengaruhi pengembangan perilaku bersaing, yang ditunjukkan pada perilaku wira usaha dalam mengembangkan perilaku kerja sama. Hal ini terwujud pada pertukaran pengetahuan yang terjadi dalam jejaring sosial, guna menciptakan nilai-nilai bar\i(new creation) yang mampu meningkatkan kinerja masing-masing perusahaan.

Keterbukaan hubungan antarperusahaan dalam jejaring sosial juga menunjukkan kualitas pertukaran pengetahuan inv bal-balik (redprocal social exchange), sumber daya, pasar dan teknologi yang berdasarkan kepercayaan (trust). Begitu juga komitmen menciptakan nilai-nilai baru yang menjadi bagian dari perilaku wira usaha dalam menerapkan strategi adaptif.

Leave a Reply